Jika Game Theory Dipakai untuk Membangun Partai Politik Baru
"Mungkin selama ini kita bertanya dengan pertanyaan yang salah."
---
Setiap menjelang pemilu, pemandangannya hampir selalu sama.
Lebih banyak baliho.
Lebih banyak slogan.
Lebih banyak deklarasi.
Lebih banyak panggung politik.
Seolah-olah semua partai sedang mengikuti buku panduan yang sama.
Lalu muncul sebuah pertanyaan sederhana.
Bagaimana jika justru di situlah masalahnya?
Bagaimana jika bukan karena ada partai yang kurang bekerja keras, melainkan karena hampir semua pemain sedang memainkan permainan yang sama?
Dalam dunia strategi, ada sebuah cabang ilmu yang dikenal sebagai Game Theory. Banyak orang menganggapnya hanya teori matematika. Padahal, di balik rumus-rumusnya tersimpan satu gagasan yang sangat sederhana:
«Pemain terbaik belum tentu menang. Terkadang yang menang adalah pemain yang mengubah cara permainan itu dimainkan.»
---
Ketika Semua Orang Berlari ke Arah yang Sama
Bayangkan ada sepuluh toko kopi berdiri berdampingan.
Kesepuluhnya menjual menu yang mirip.
Harga yang mirip.
Desain yang mirip.
Promosi yang mirip.
Lalu salah satu pemilik bertanya,
"Bagaimana kalau saya membuat toko kopi yang sekaligus menjadi ruang belajar, tempat bertemu komunitas, dan studio kreatif?"
Saat itu juga, ia berhenti bersaing hanya sebagai penjual kopi.
Ia sedang menciptakan kategori baru.
Hal yang sama berulang berkali-kali dalam sejarah bisnis.
Netflix tidak mengalahkan toko penyewaan DVD dengan membuka toko yang lebih besar.
Airbnb tidak membangun hotel yang lebih mewah.
Spotify tidak menjual lebih banyak CD.
Mereka memenangkan permainan dengan cara mengubah permainannya.
---
Politik Mungkin Menghadapi Tantangan yang Sama
Banyak organisasi politik masih mengukur keberhasilan dengan indikator yang sudah lama dikenal.
Berapa banyak baliho yang dipasang.
Berapa banyak rapat yang dihadiri.
Berapa banyak panggung yang dikunjungi.
Semua itu tentu memiliki tempatnya masing-masing.
Namun ada pertanyaan yang lebih menarik.
Bagaimana jika organisasi politik masa depan dinilai dengan ukuran yang berbeda?
Bukan seberapa sering muncul di jalan raya.
Melainkan seberapa sering hadir dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
---
Bayangkan Sebuah Eksperimen
Bayangkan suatu hari lahir sebuah organisasi politik generasi baru.
Alih-alih membuka kantor yang hanya ramai menjelang pemilu, kantor-kantornya berubah menjadi ruang belajar.
Setiap akhir pekan ada kelas kecerdasan buatan.
Pelatihan UMKM.
Kelas membuat CV.
Workshop kewirausahaan.
Kelas bahasa Inggris.
Komunitas olahraga.
Diskusi buku.
Pelatihan kepemimpinan.
Orang datang bukan karena diminta memilih.
Mereka datang karena merasa berkembang.
Lima tahun kemudian, organisasi itu memang memiliki banyak anggota.
Tetapi anggota tersebut bukan hanya tercatat di atas kertas.
Mereka sudah saling mengenal.
Belajar bersama.
Membangun proyek bersama.
Menyelesaikan masalah bersama.
Pertanyaannya bukan lagi,
"Berapa banyak anggota yang dimiliki?"
Melainkan,
"Berapa banyak hubungan yang berhasil dibangun?"
---
Dari Mesin Politik Menjadi Mesin Kepercayaan
Dalam Game Theory, ada konsep yang disebut Repeated Game.
Artinya, hubungan tidak terjadi sekali.
Ia berulang.
Orang akan terus mengingat bagaimana sebuah organisasi bertindak dari waktu ke waktu.
Kepercayaan jarang lahir dari satu pidato.
Kepercayaan lebih sering lahir dari seratus pertemuan kecil yang konsisten.
Seratus bantuan sederhana.
Seratus percakapan yang jujur.
Seratus solusi yang benar-benar dirasakan.
Mungkin inilah alasan mengapa organisasi yang bertahan lama hampir selalu memikirkan sesuatu yang lebih besar daripada satu musim kompetisi.
Mereka membangun kebiasaan.
Budaya.
Dan hubungan.
---
Pertanyaan yang Mungkin Selama Ini Terlewat
Barangkali pertanyaan terbesar bukanlah,
"Bagaimana memenangkan pemilu berikutnya?"
Melainkan,
"Bagaimana menciptakan organisasi yang tetap dicari masyarakat bahkan ketika tidak ada pemilu?"
Jawaban dari pertanyaan kedua mungkin tidak menghasilkan hasil yang instan.
Namun jika berhasil, dampaknya bisa jauh melampaui satu siklus politik.
---
Political Lab
Artikel ini bukanlah jawaban.
Ia hanyalah sebuah eksperimen pikiran.
Karena mungkin masa depan politik Indonesia tidak hanya ditentukan oleh siapa yang memiliki sumber daya paling besar.
Tetapi juga oleh siapa yang pertama kali berani bertanya,
"Bagaimana jika aturan permainannya kita ubah?"