Seorang teknokrat yang bicara seperti orang biasa, berani tampil percaya diri, membuat kebijakan kontroversial, lalu meninggalkan kursi Menteri Keuangan dengan sikap yang tetap santai.
Ada alasan mengapa Purbaya Yudhi Sadewa terasa berbeda.
Bukan karena ia selalu benar. Bukan pula karena semua kebijakannya disukai.
Selama menjadi Menteri Keuangan, Purbaya beberapa kali menjadi bahan perdebatan karena gaya komunikasi, kebijakan fiskal, penempatan dana pemerintah di perbankan, hingga berbagai keputusan yang menyentuh kepentingan ekonomi masyarakat.
Tetapi di tengah semua itu, ada satu hal yang sulit disangkal:
Purbaya terasa seperti orang biasa yang kebetulan sedang memegang jabatan luar biasa.
Dan mungkin itulah yang membuat banyak orang merasa dekat dengannya.
---
Menteri Keuangan yang Tidak Terlalu Terasa Seperti Menteri
Purbaya datang ke Kementerian Keuangan dengan latar belakang yang tidak biasa.
Ia memulai pendidikan tinggi di Teknik Elektro ITB sebelum melanjutkan studi ekonomi hingga memperoleh gelar doktor dari Purdue University.
Kariernya kemudian bergerak dari Schlumberger, Danareksa, pemerintahan, hingga menjadi Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan.
Ketika dilantik sebagai Menteri Keuangan pada September 2025, ia bukan pendatang baru dalam ekonomi Indonesia.
Tetapi cara bicaranya membuatnya berbeda dari banyak teknokrat.
Purbaya tidak terlalu tertarik menggunakan bahasa birokrasi yang aman.
Ia bisa berbicara mengenai pertumbuhan ekonomi, likuiditas, fiskal dan investasi dengan istilah teknis, lalu beberapa menit kemudian melontarkan candaan yang jauh lebih mudah dipahami masyarakat.
Gaya itu kemudian sering disebut sebagai gaya “koboi”.
Menariknya, Purbaya sendiri mengakui bahwa gaya tersebut memang bagian dari cara komunikasinya.
Dalam wawancara satu tahun sebagai Menteri Keuangan, ia menjelaskan bahwa dirinya sengaja tampil optimistis karena menurutnya ekspektasi masyarakat ikut menentukan aktivitas ekonomi.
Jika masyarakat yakin ekonomi akan membaik, mereka lebih berani berbelanja. Dunia usaha lebih berani berinvestasi. Investor lebih percaya diri.
Sebaliknya, pesimisme dapat menciptakan lingkaran yang berlawanan.
Purbaya menyebutnya sebagai self-fulfilling prophecy.
Optimisme bagi Purbaya bukan sekadar perasaan. Ia adalah bagian dari instrumen ekonomi.
---
“Sombong” Sebagai Strategi
Di sinilah karakter Purbaya menjadi menarik.
Ia bahkan pernah menjelaskan bahwa dirinya harus tetap “sombong”.
Bukan berarti merasa lebih tinggi dari orang lain.
Yang dimaksud adalah keberanian menunjukkan keyakinan ketika sebagian masyarakat sedang pesimistis terhadap ekonomi.
Ini adalah pendekatan komunikasi yang tidak lazim bagi seorang Menteri Keuangan.
Biasanya pejabat ekonomi berbicara dengan banyak catatan kaki.
Purbaya justru sering melakukan sebaliknya.
Ia membuat pernyataan yang tegas, kemudian menjelaskan angka dan logikanya.
Bagi sebagian orang, gaya tersebut terasa menyegarkan.
Bagi yang lain, gaya itu bisa dianggap terlalu percaya diri.
Yang jelas, persona tersebut bukan sesuatu yang muncul secara kebetulan.
---
Tetapi Purbaya Bukan Sekadar Talker
Salah satu kebijakan paling menonjol pada awal masa jabatannya adalah penempatan Rp200 triliun dana pemerintah pada lima bank Himbara.
Kebijakan tersebut dirancang untuk memperkuat likuiditas perbankan dan mendorong penyaluran kredit serta aktivitas ekonomi.
Langkah ini menjadi salah satu simbol pendekatan Purbaya:
uang negara harus bekerja.
Purbaya berulang kali menekankan pentingnya membuat aktivitas ekonomi bergerak lebih cepat.
Ia bahkan mengatakan Indonesia seharusnya mampu tumbuh 6%, kemudian 7%, dan dalam jangka panjang mendekati 8%.
Argumennya sederhana.
Indonesia membutuhkan pertumbuhan yang cukup tinggi untuk menciptakan lapangan kerja bagi jutaan penduduk usia produktif yang masuk ke pasar kerja setiap tahun.
Dalam pandangan Purbaya, pertumbuhan ekonomi bukan sekadar angka dalam laporan pemerintah.
Pertumbuhan harus terasa dalam kehidupan masyarakat.
---
Angka Tetap Penting
Namun cerita Purbaya tidak berhenti pada gaya komunikasi.
Data pertumbuhan ekonomi selama masa jabatannya menunjukkan adanya peningkatan dibandingkan periode sebelumnya, meskipun perubahan tersebut tentu tidak dapat secara otomatis dianggap sebagai hasil kerja satu orang.
Detik mencatat rata-rata pertumbuhan empat kuartal sebelum Purbaya sekitar 4,99%, sementara empat kuartal setelahnya sekitar 5,33%.
Penerimaan pajak juga menunjukkan pertumbuhan.
Hingga Juli 2026, penerimaan pajak tercatat Rp1.224,3 triliun atau tumbuh 23,7% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
APBN tetap berada dalam kerangka disiplin fiskal dengan defisit di bawah 3% PDB.
Namun angka-angka tersebut perlu dibaca secara proporsional.
Pertumbuhan ekonomi dan penerimaan negara dipengaruhi banyak faktor: konsumsi, investasi, harga komoditas, kebijakan moneter, kondisi global dan keputusan dunia usaha.
Menteri Keuangan memiliki pengaruh besar, tetapi bukan satu-satunya penentu.
Purbaya sendiri tampaknya cukup nyaman dengan pendekatan berbasis angka.
Ia sering menjawab kritik bukan dengan retorika, tetapi dengan perhitungan.
---
Ia Juga Membaca Komentar Netizen
Ada sisi lain yang mungkin menjelaskan mengapa Purbaya terasa dekat dengan masyarakat.
Ia mengaku membaca komentar publik di media sosial.
Menurutnya, komentar masyarakat kadang memberikan informasi yang tidak selalu sampai melalui jalur birokrasi.
Jika seorang bawahan melaporkan bahwa semuanya baik-baik saja, seorang menteri bisa saja kehilangan sebagian gambaran mengenai apa yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Media sosial memberikan saluran lain.
Keluhan mengenai pelayanan pajak, bea cukai atau institusi pemerintah dapat menjadi sinyal yang kemudian ditindaklanjuti.
Ia tidak hanya berbicara kepada publik. Ia juga mendengarkan publik.
---
Ada Sesuatu yang Manusiawi dalam Dirinya
Purbaya pernah mengatakan bahwa dirinya tidak merasa seperti pejabat.
Ia merasa masih seperti dirinya yang dulu: seorang pengamat ekonomi.
Bahkan ia bercanda bahwa ketika tidak mengenakan pin Menteri Keuangan, ia tidak merasa seperti menteri.
Kalimat sederhana itu mungkin menjelaskan mengapa persona Purbaya terasa berbeda.
Jabatan memberi seseorang kewenangan.
Tetapi kewenangan tidak harus mengubah cara seseorang berkomunikasi dengan publik.
Purbaya tetap mempertahankan gaya bicara yang sudah menjadi cirinya jauh sebelum berada di kursi Menteri Keuangan.
---
Ketika Kursi Itu Berubah
Pada 14 September 2026, Purbaya diberhentikan dari jabatan Menteri Keuangan.
Ia mengetahui kabar tersebut ketika sedang mengikuti rapat di DPD dan mendapat telepon dari Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi.
Purbaya mengatakan dirinya sebenarnya sudah memperkirakan kemungkinan tersebut sekitar 50:50.
Ia juga menegaskan bahwa pergantian menteri merupakan hak prerogatif Presiden.
Sikapnya setelah itu juga relatif tenang.
Ia tidak menjadikan pencopotan tersebut sebagai alasan untuk membangun konflik terbuka.
Ketika ditanya mengenai masa depannya, Purbaya mengatakan tidak berminat kembali menjadi pejabat.
---
Mengapa Sahabat Kita?
Mungkin justru karena itu.
Purbaya tidak perlu menjadi figur yang selalu kita setujui untuk terasa dekat.
Kebijakannya bisa diperdebatkan. Pernyataannya bisa dikritik. Gaya komunikasinya bisa disukai atau tidak disukai.
Tetapi ada sesuatu yang tetap menarik: ia berbicara kepada publik sebagai dirinya sendiri.
Ia bisa membahas pertumbuhan ekonomi dengan serius, berdebat menggunakan angka, membaca komentar netizen, lalu menerima kenyataan bahwa jabatan politik pada akhirnya bukan miliknya untuk dipertahankan.
Purbaya pernah menjadi teknokrat, ekonom, regulator, Ketua LPS, dan Menteri Keuangan.
Kini ia adalah mantan Menteri Keuangan.
Tetapi mungkin justru setelah kehilangan jabatan itulah kita bisa melihat karakter Purbaya dengan lebih jelas.
Bukan sebagai Menteri.
Bukan sebagai pejabat.
Melainkan sebagai Purbaya.
Dan ketika ditanya apa yang ingin dilakukannya setelah meninggalkan kekuasaan, jawabannya sederhana:
“Gue mau mancing.”
Ada sesuatu yang menyenangkan dari jawaban itu.
Setelah setahun mengurus uang negara, mungkin memang tidak ada salahnya seorang Purbaya kembali menjadi manusia biasa.