Percakapan dengan Hayono Isman tentang Manusia, Kekuasaan, dan Masa Depan Indonesia
Ada satu hal yang menarik perhatian GR.com ketika berbincang dengan Hayono Isman: pandangannya tentang independensi Kosgoro ternyata tidak bisa dipisahkan dari cara ia melihat hubungan antara masyarakat, negara, dan kekuasaan. Hayono menilai, setelah Reformasi, posisi yang tepat bagi Kosgoro adalah menjadi mitra pemerintah yang independen, bukan organisasi yang berpolitik praktis atau berafiliasi dengan partai tertentu. Pilihan itu memang membuat Kosgoro kehilangan sebagian “glamor” politiknya dibandingkan masa lalu, tetapi menurut Hayono, independensi adalah harga yang harus dibayar. Dan menariknya, ketika ditelusuri lebih jauh, keputusan itu justru membawa Kosgoro kembali kepada DNA awalnya.
Bagi Hayono, Kosgoro sejak didirikan Mas Isman memang memiliki dasar perjuangan untuk memperkuat masyarakat. Keterlibatan dalam politik pada era 1960-an merupakan respons terhadap situasi politik yang luar biasa, terutama menghadapi gejolak PKI. Setelah itu, perjuangan harus menemukan bentuk baru. Para pemuda yang sebelumnya bertempur sebagai Tentara Republik Indonesia Pelajar diarahkan menjadi bagian dari “brigade pembangunan”. Dari sini, GR.com mulai melihat bahwa untuk memahami pemikiran Hayono tentang Kosgoro hari ini, kita harus terlebih dahulu memahami warisan pemikiran Mas Isman.
Bagi Hayono, masalah Indonesia setelah merdeka sangat sederhana tetapi fundamental: rakyat harus menjadi kuat. Kemerdekaan adalah syarat awal sebuah bangsa, bukan tujuan akhirnya. Karena itu, Mas Isman melihat pentingnya membangun ekonomi rakyat. Kosgoro sendiri pada awalnya lahir sebagai koperasi, sebuah pilihan yang mencerminkan gagasan bahwa perjuangan setelah perang harus diarahkan pada kemandirian masyarakat. Bagi Hayono, titik terendah sebuah bangsa adalah ketika rakyat membiarkan negaranya dijajah. Tetapi setelah merdeka, perjuangan belum selesai. Medannya hanya berubah.
Nilai yang paling kuat diwariskan Mas Isman kepada Hayono adalah prinsip dan keberanian berkorban. Ia mengingat para pelajar yang ketika itu justru dilarang orang tua dan guru untuk ikut berperang, tetapi memilih masuk ke medan perjuangan. Bagi Hayono, keberanian tersebut bukan sekadar keberanian fisik, melainkan keberanian mempertahankan sesuatu yang diyakini benar. Nilai itulah yang kemudian ia bawa ke dalam pandangannya tentang pembangunan: masyarakat harus diperkuat secara fisik, mental, dan ekonomi.
Pandangan tersebut membawa kami kepada pengalaman Hayono sendiri sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga. Ketika GR.com bertanya apakah pengalaman berada di dalam pemerintahan membuatnya semakin percaya atau justru kritis terhadap sistem, jawabannya kembali kepada manusia. “Kalau kita berbicara sistem, kita harus berbicara manusianya,” ujarnya. Menurut Hayono, sistem yang baik lahir dari manusia yang baik. Karena itu, pembangunan manusia harus dipandang sebagai proyek jangka panjang dan lintas generasi—membangun fisik melalui gizi, mental melalui karakter juara, dan spiritual melalui nilai agama.
Logika tersebut kemudian terbawa ke pengalaman politik Hayono dalam Konvensi Capres Partai Demokrat 2014. Bagi dirinya, terlepas dari kepentingan politik di balik konvensi tersebut, eksperimen itu memberikan pelajaran penting: seorang calon pemimpin seharusnya diuji melalui visi dan misinya. Dan prinsip tersebut, menurut Hayono, tidak seharusnya berhenti pada calon presiden. Anggota DPR, menteri, pimpinan partai, dan pejabat publik lainnya juga perlu memiliki standar pertanggungjawaban yang jelas. Bahkan ia melihat partai politik perlu memiliki sistem reward and punishment berdasarkan kinerja kadernya. Partai tidak boleh hanya hadir ketika kadernya memenangkan jabatan, lalu lepas tangan ketika kader tersebut bermasalah.
Dari sinilah pembicaraan kami bergeser dari kualitas sistem kepada kualitas pribadi orang yang berada di dalam sistem. Hayono pernah mengatakan bahwa perjalanan politiknya cukup panjang—pernah menjadi anggota DPR, menteri, dan memegang berbagai posisi organisasi—tetapi ia tidak pernah tersandung masalah hukum. Ketika GR.com bertanya bagaimana seorang pejabat dapat menjaga dirinya, jawabannya justru sangat praktis: jabatan adalah amanah, dan lingkungan sangat menentukan. Ia mengibaratkan menjaga integritas seperti ketika dirinya berhenti merokok: langkah pertama adalah menjauhi tempat-tempat yang biasa membuatnya tergoda. Sebab godaan terhadap kekuasaan akan selalu ada, dan prinsip perlu dibantu oleh lingkungan yang tepat.
Tetapi ada satu hal yang menurut Hayono lebih penting daripada semua itu: martabat. Sebesar apa pun keuntungan yang bisa diperoleh dari sebuah jabatan, semuanya menjadi tidak berarti ketika martabat rusak. Jabatan akan berakhir, kekuasaan akan berganti, tetapi nama baik seseorang akan terus melekat. Di titik ini, amanah bukan lagi sekadar kewajiban moral seorang pejabat, tetapi pilihan tentang seperti apa seseorang ingin dikenang setelah kekuasaan tidak lagi berada di tangannya.
Lalu kami membawa pembicaraan kepada pertanyaan yang lebih sederhana: apa yang membuat seseorang layak menjadi pemimpin? Dalam demokrasi, Hayono menempatkan legitimasi rakyat sebagai syarat utama. Ia mengambil Gibran Rakabuming Raka sebagai contoh. Usia dan pengalaman Gibran memang sempat diperdebatkan, tetapi fakta konstitusionalnya adalah Prabowo Subianto dan Gibran telah dipilih melalui pemilu 2024 untuk memimpin Indonesia. Bagi Hayono, setelah kompetisi selesai, bangsa harus memastikan proses pemerintahan dan transisi kepemimpinan berjalan dengan baik. Sebab pergantian kekuasaan melalui gejolak politik memiliki harga yang mahal bagi sebuah bangsa.
Pemikiran itu membawa kami kembali kepada tema yang sejak awal terus muncul: regenerasi. Menurut Hayono, masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh siapa yang memimpin hari ini, tetapi juga oleh bagaimana generasi berikutnya dipersiapkan untuk mengambil alih kepemimpinan. Transisi yang sehat membutuhkan manusia yang dipersiapkan jauh sebelum mereka masuk ke arena politik. Dengan demikian, pembangunan manusia dan regenerasi kepemimpinan sebenarnya adalah dua sisi dari persoalan yang sama.
Ketika GR.com akhirnya bertanya tentang harapannya kepada generasi muda Indonesia, Hayono tidak berbicara tentang jabatan atau kekuasaan. Ia memilih satu kata: petarung. Generasi muda, menurutnya, harus memiliki mental juara—tidak takut tantangan, terus meningkatkan kemampuan, dan selalu bangkit ketika gagal. Tidak ada jalan pintas menuju juara. Dan “juara” yang ia maksud bukan hanya orang yang memenangkan pertandingan olahraga, melainkan seseorang yang mampu memenangkan pertarungan dalam kehidupannya sendiri.
Mungkin di situlah seluruh percakapan kami dengan Hayono Isman akhirnya bertemu. Dari independensi Kosgoro, kami kembali kepada Mas Isman. Dari Mas Isman, kami berbicara tentang penguatan masyarakat. Dari masyarakat, kami masuk kepada pembangunan manusia, sistem politik, amanah jabatan, integritas, kepemimpinan, hingga regenerasi. Benang merahnya ternyata selalu sama: manusia.
Bagi Hayono, Indonesia tidak cukup hanya memiliki sistem yang baik. Kita membutuhkan manusia yang mampu menjalankan sistem tersebut dengan prinsip. Kita tidak cukup hanya memiliki pemimpin. Kita membutuhkan generasi yang siap menggantikan pemimpin sebelumnya tanpa harus menghancurkan fondasi bangsa. Dan kita tidak cukup hanya menikmati kemerdekaan sebagai sebuah pencapaian sejarah. Kemerdekaan adalah syarat awal. Perjuangan berikutnya adalah memastikan rakyatnya cukup kuat untuk mempertahankannya dan membangun masa depannya sendiri.
Pada akhirnya, mungkin pesan Hayono kepada generasi muda juga merupakan refleksi dari perjalanan hidupnya sendiri: jadilah petarung. Bukan karena hidup selalu harus dimenangkan, tetapi karena bangsa yang besar membutuhkan manusia yang ketika jatuh mampu berdiri kembali, ketika diuji tetap memegang prinsip, dan ketika diberi kekuasaan tidak lupa bahwa jabatan hanyalah amanah sementara.