"Peradaban yang hebat bukan diukur dari seberapa lama satu generasi mempertahankan kekuasaan, tetapi seberapa baik mereka menyiapkan generasi berikutnya."
---
Mengapa Miliarder Masih Membeli Media yang "Menurun"?
Di tengah ledakan TikTok, YouTube Shorts, podcast, dan Artificial Intelligence, muncul sebuah paradoks yang menarik.
Jeff Bezos mengakuisisi The Washington Post. Larry Ellison mengambil alih Paramount Global, induk CBS News.
Bagi sebagian investor, langkah tersebut terlihat aneh. Industri media tradisional telah kehilangan sebagian pembaca dan penonton. Iklan digital berpindah ke platform lain. Anak muda lebih banyak mendapatkan informasi dari media sosial dibanding surat kabar atau televisi.
Lalu mengapa aset seperti itu masih bernilai miliaran dolar?
Salah satu cara memahaminya adalah melihat media bukan semata sebagai bisnis yang menjual perhatian (attention), melainkan sebagai institusi yang masih memiliki kemampuan membentuk pengaruh (influence) pada kelompok tertentu.
Karena dalam politik dan bisnis, bukan hanya jumlah audiens yang penting.
Yang lebih penting adalah siapa audiensnya.
Seratus juta penonton TikTok belum tentu memiliki pengaruh yang sama dengan puluhan ribu pembaca yang terdiri dari pejabat publik, pengusaha, akademisi, diplomat, dan pembuat kebijakan.
Di sinilah muncul sebuah pertanyaan yang jauh lebih besar.
Jika para pengambil keputusan dunia masih mengonsumsi ekosistem informasi yang berbeda dengan generasi muda, apakah dunia saat ini sedang dipimpin oleh sebuah generasi yang sama?
---
The Gerontocracy Era
Ilmu politik memiliki istilah untuk fenomena ini.
Gerontokrasi.
Yaitu kondisi ketika posisi-posisi kekuasaan didominasi oleh pemimpin yang berusia lanjut.
Hari ini kita melihat fenomena yang menarik.
Amerika Serikat dipimpin Donald Trump.
Rusia dipimpin Vladimir Putin.
Tiongkok dipimpin Xi Jinping.
Indonesia dipimpin Presiden Prabowo Subianto.
Masing-masing memiliki latar belakang yang berbeda, sistem politik yang berbeda, dan kepentingan nasional yang berbeda. Namun ada satu kesamaan yang sulit diabaikan: mereka berasal dari generasi yang dibentuk oleh dunia abad ke-20.
Ini bukan kritik terhadap usia.
Justru pengalaman panjang sering kali menjadi alasan mengapa seorang pemimpin mampu mengambil keputusan dengan lebih tenang dalam situasi krisis.
Namun ketika banyak pusat kekuasaan dunia berada di tangan generasi yang relatif sama pada waktu yang bersamaan, muncul pertanyaan baru.
Apakah perspektif yang mendominasi meja pengambilan keputusan juga menjadi semakin seragam?
---
The Kakek Bubble
Mari kita sebut fenomena ini sebagai The Kakek Bubble.
Bukan karena para pemimpinnya tidak kompeten.
Melainkan karena mereka dibentuk oleh lingkungan informasi yang relatif serupa.
Mereka tumbuh ketika televisi adalah media utama.
Surat kabar menjadi sumber legitimasi.
Birokrasi bergerak lebih lambat.
Internet belum menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Sebaliknya, Generasi Z tumbuh dalam dunia yang sama sekali berbeda.
Mereka hidup bersama algoritma.
Artificial Intelligence.
Ekonomi kreator.
Startup.
Media sosial.
Informasi bergerak dalam hitungan detik.
Artinya, tantangan terbesar bukan sekadar perbedaan umur.
Tantangan sebenarnya adalah perbedaan ekosistem berpikir.
Ketika hampir semua orang di ruang pengambilan keputusan berasal dari generasi yang sama, selalu ada risiko terbentuknya echo chamber—ruang di mana perspektif yang beredar cenderung saling menguatkan, sementara sudut pandang baru lebih sulit masuk.
---
Pengalaman Adalah Kekuatan. Tetapi Bukan Satu-Satunya.
Gerontokrasi memiliki kelebihan.
Pengalaman.
Jaringan internasional.
Memori sejarah.
Kemampuan menghadapi krisis.
Semua itu adalah aset yang tidak bisa dipelajari dalam semalam.
Namun setiap kelebihan selalu memiliki biaya.
Generasi yang telah lama berhasil dengan satu pendekatan dapat lebih berhati-hati untuk mengubahnya.
Institusi yang telah mapan cenderung mempertahankan status quo.
Teknologi baru sering dipandang sebagai pelengkap, bukan sebagai pengubah permainan.
Padahal sejarah menunjukkan bahwa banyak lompatan besar justru datang dari cara berpikir yang belum pernah dicoba sebelumnya.
---

Dari Zero to One
Dalam bukunya Zero to One, Peter Thiel membedakan dua jenis kemajuan.
Yang pertama adalah horizontal progress.
Yaitu memperbanyak sesuatu yang sudah ada.
Membuka cabang baru.
Memperluas pasar.
Menyalin model yang telah berhasil.
Yang kedua adalah vertical progress.
Menciptakan sesuatu yang sebelumnya tidak ada.
Berpindah dari nol menjadi satu.
Politik sering kali terjebak pada pertumbuhan horizontal.
Tokohnya berganti.
Partainya berganti.
Koalisinya berganti.
Tetapi cara berpikirnya tetap sama.
Regenerasi akhirnya hanya menjadi pergantian nama.
Bukan pergantian paradigma.
Padahal tantangan abad ke-21 bukan sekadar mengelola negara dengan lebih baik.
Melainkan mempersiapkan negara menghadapi tantangan yang belum pernah ada sebelumnya.
Artificial Intelligence.
Keamanan siber.
Bioteknologi.
Ekonomi digital.
Persaingan talenta global.
Masalah-masalah itu membutuhkan keberanian untuk bereksperimen, tanpa mengorbankan stabilitas yang telah dibangun.
---
Mengapa Pemimpin Muda Menjadi Penting?
Pertanyaan ini sering disalahpahami.
Bukan karena semua pemimpin muda pasti lebih baik.
Dan tentu saja tidak semua pemimpin senior pasti lebih buruk.
Usia bukan ukuran kualitas kepemimpinan.
Yang lebih penting adalah apakah seseorang membawa perspektif baru.
Apakah ia memahami bahasa zaman.
Apakah ia mampu menjembatani pengalaman masa lalu dengan tantangan masa depan.
Dengan kata lain, yang dibutuhkan bukan sekadar regenerasi usia.
Melainkan regenerasi cara berpikir.
---
Indonesia dan Tongkat Estafet
Dalam konteks Indonesia, perdebatan tentang Gibran Rakabuming Raka hampir selalu berhenti pada usia atau latar belakang keluarganya.
Padahal ada pertanyaan yang lebih menarik.
Apa arti kehadiran pemimpin dari generasi yang lebih muda di tengah lanskap politik yang masih banyak diisi oleh tokoh-tokoh senior?
Pertanyaan itu layak dibahas, terlepas dari apakah seseorang mendukung atau mengkritik Gibran.
Jika seorang pemimpin muda hanya mengulang pola lama, maka usianya tidak membawa banyak perubahan.
Namun jika ia mampu menghadirkan cara berpikir baru—lebih akrab dengan teknologi, lebih memahami ekonomi digital, lebih terbuka pada eksperimen kebijakan, dan mampu berbicara dengan generasi yang akan hidup paling lama bersama keputusan hari ini—maka kehadirannya memiliki arti strategis.
Dalam perspektif ini, Gibran bukan sekadar seorang individu.
Ia adalah bagian dari diskusi yang lebih besar tentang bagaimana Indonesia menyiapkan regenerasi kepemimpinan.
Bukan untuk menggantikan pengalaman para senior.
Melainkan untuk melengkapinya.
---
Masa Depan Tidak Bisa Ditunda
Setiap generasi memiliki zamannya.
Generasi yang membangun fondasi negara pantas dihormati.
Mereka menghadapi tantangan yang berbeda.
Mengambil keputusan di masa yang berbeda.
Namun setiap fondasi pada akhirnya harus diteruskan.
Peradaban tidak maju karena satu generasi mempertahankan panggung selama mungkin.
Peradaban maju ketika satu generasi cukup percaya diri untuk menyerahkan sebagian panggung kepada generasi berikutnya.
Karena masa depan akan dihuni lebih lama oleh mereka yang hari ini masih muda.
Dan mungkin, ukuran terbesar seorang negarawan bukanlah berapa lama ia memegang tongkat estafet.
Melainkan seberapa siap ia menyerahkannya kepada pelari berikutnya.