Ada alasan kenapa sebagian orang betah nongkrong berjam-jam dengan circle yang hidupnya stagnan.
Tidak ada tekanan.
Tidak ada kompetisi.
Tidak ada rasa tertinggal.
Di tongkrongan seperti itu, semua orang bisa merasa “normal”. Tidak peduli seberapa berantakan hidup masing-masing, selalu ada teman yang nasibnya mirip, cerita gagalnya serupa, atau mimpinya sama-sama belum berjalan ke mana-mana.
Dan mungkin, di situlah letak kenyamanannya.
Karena manusia tidak selalu mencari motivasi. Kadang manusia hanya mencari tempat untuk bernapas dari rasa lelah menjadi “dewasa”.
Di era ketika media sosial dipenuhi orang yang tampak sukses sebelum umur 30, nongkrong dengan orang-orang santai terasa seperti ruang bebas evaluasi. Tidak ada yang membicarakan target lima tahun, investasi, networking, atau produktivitas pukul lima pagi. Yang ada hanya kopi, candaan receh, keluhan hidup, dan rasa lega karena tidak perlu terlihat hebat.
Aneh memang.
Tetapi sangat manusiawi.
Masalahnya, kenyamanan sosial sering datang bersama efek samping yang tidak terasa di awal.
Pelan-pelan, lingkungan mulai membentuk standar hidup kita.
Kalau semua orang di sekitar kita terbiasa menunda, kita mulai menganggap menunda sebagai hal biasa. Kalau semua orang menyerah pada keadaan, kita ikut merasa tidak perlu mencoba terlalu keras. Kalau setiap obrolan selalu berakhir dengan menyalahkan nasib, pemerintah, keluarga, ekonomi, atau “orang dalam”, maka rasa tidak berdaya perlahan berubah menjadi identitas bersama.
Bukan karena orang-orang itu bodoh.
Sebagian besar hanya lelah.
Lelah merasa tertinggal.
Lelah membandingkan diri.
Lelah melihat orang lain melaju lebih cepat.
Lelah berpura-pura baik-baik saja.
Karena itu, tongkrongan sering berubah fungsi. Bukan lagi tempat berkembang, melainkan tempat saling menenangkan bahwa tidak berkembang pun masih terasa aman.
Dan di titik tertentu, itu bisa terasa adiktif.
Secara psikologis, manusia memang cenderung mengukur dirinya berdasarkan lingkungan sekitar. Ketika semua orang di circle yang sama memiliki pola hidup serupa, standar internal ikut menyesuaikan.
Kalau tidak ada yang disiplin, kita tidak merasa malas.
Kalau tidak ada yang benar-benar bergerak maju, kita tidak merasa tertinggal.
Mediokritas menjadi nyaman karena dibagi bersama-sama.
Itulah mengapa sebagian orang lebih takut berada di lingkungan ambisius dibanding lingkungan stagnan. Bukan karena mereka membenci kesuksesan, tetapi karena lingkungan ambisius memaksa seseorang bercermin.
Dan bercermin itu melelahkan.
Di dekat orang-orang yang bergerak maju, kita tidak bisa terus-menerus bersembunyi di balik alasan. Ada rasa canggung ketika orang lain mulai membangun sesuatu sementara kita masih sibuk mencari pembenaran.
Akhirnya, muncul satu mekanisme yang sangat umum: menyalahkan faktor eksternal.
Pemerintah.
Keadaan ekonomi.
Keluarga.
Privilege.
Nasib.
Dan jujur saja, sebagian faktor itu memang nyata. Tidak semua orang memulai hidup dari garis start yang sama. Ada yang lahir dengan akses, ada yang harus bertahan sejak awal.
Namun, ada perbedaan besar antara memahami hambatan hidup dan menjadikan hambatan sebagai identitas permanen.
Karena ketika semua masalah selalu diletakkan di luar diri, manusia perlahan kehilangan rasa memiliki terhadap hidupnya sendiri.
Di situlah circle menjadi penting.
Beberapa circle membantu kita pulih.
Beberapa circle membuat kita mati rasa.
Yang berbahaya bukan tongkrongan yang berisik atau toxic secara terang-terangan. Justru yang paling sulit disadari adalah lingkungan yang terasa hangat, lucu, suportif, tetapi diam-diam membuat kita berhenti bertumbuh.
Sebab tidak semua kenyamanan menyembuhkan.
Ada kenyamanan yang hanya membuat kita terbiasa dengan versi hidup yang sebenarnya tidak kita inginkan.
Lalu muncul pertanyaan yang lebih dalam: sebenarnya apa yang hilang dari banyak orang hari ini?
Mungkin jawabannya bukan motivasi.
Mungkin yang hilang adalah rasa tanggung jawab terhadap hidup sendiri.
Banyak orang masih menjalankan kewajiban. Mereka bekerja, datang tepat waktu, membayar tagihan, menjalani rutinitas, dan melakukan hal-hal yang secara sosial dianggap “normal”.
Namun, menjalankan kewajiban tidak selalu berarti benar-benar hadir dalam hidup yang dijalani.
Ada perbedaan antara kewajiban dan tanggung jawab.
Kewajiban adalah sesuatu yang harus dilakukan.
Tanggung jawab adalah kesediaan menanggung konsekuensi dari hidup yang kita pilih.
Karena itu, seseorang bisa terlihat sibuk setiap hari, tetapi sebenarnya sedang menghindari tanggung jawab terhadap masa depannya sendiri. Sibuk bekerja, sibuk nongkrong, sibuk menghibur diri, tetapi tidak pernah benar-benar bertanya:
“Aku sebenarnya sedang menuju ke mana?”
Pertanyaan itu tidak nyaman. Maka banyak orang memilih distraksi sosial agar tidak perlu terlalu lama sendirian dengan pikirannya sendiri.
Namun artikel ini juga bukan ajakan untuk menjadi manusia yang terus-menerus hustle.
Tidak semua orang harus kaya.
Tidak semua orang harus menjadi pengusaha.
Tidak semua orang wajib hidup ambisius.
Ada orang yang memang bahagia dengan hidup sederhana dan ritme yang tenang. Dan itu tidak salah.
Tetapi hidup sederhana berbeda dengan menyerah diam-diam lalu menyebutnya “peaceful”.
Perbedaannya biasanya terasa dari satu hal: apakah seseorang tetap memiliki kesadaran dan tanggung jawab terhadap hidupnya, atau justru menggunakan kenyamanan sebagai tempat bersembunyi.
Pada akhirnya, manusia memang membutuhkan tempat untuk beristirahat. Kita semua butuh circle yang bisa menerima kita apa adanya.
Namun ada perbedaan besar antara tempat untuk bernapas dan tempat untuk berhenti bertumbuh.
Karena circle tidak selalu menghancurkan hidup kita secara dramatis.
Kadang circle menghancurkan hidup kita secara pelan, nyaman, dan nyaris tidak terasa.